Battle Royale (JPN, 2000)

Battle Royale (selanjutnya ditulis BR) adalah film keluaran tahun 2000 yang perlu kalian coba tonton, apalagi bagi kalian yang menganggap FILM ACTION JEPANG ga ada yang bagus. Why? Menurut saya, walaupun film ini mengambil ide yang sudah sering dipake, setting yang berbeda membuat STORY yang ada menjadi lebih menyentuh tapi ga sampai membuatnya jadi cengeng. Aksinya ga pake gaya-gayaan seperti film silat atau pertarungan death-match. Efeknya memang minim sih. Namun, hal itu tidak merusak cerita yang mengalir.

Title – Battle Royale
Cast – Fujiwara Tatsuya, Maeda Aki, Takeshi Kitano, etc
Director – Kinji Fukasaku
Original Media – Battle Royale (novel) by Koushun Takami
Sequel – Battle Royale: Requiem

S y n o p s i s

Battle Royale is a government program to select a group of ‘disposable’ kids with no bright future and send them to a battle of LIFE AND DEATH. Once they’ve been selected to ‘play’, they can’t go anywhere unless one of them – JUST ONE – can kill the other and survive as the only one winner. One class of junior high school has been selected for this year. How can Shuuya (Fujiwara Tatsuya) and the others survive this fierce battle? Will they cooperate? Or there isn’t another way but to KILL THEIR OWN BEST FRIENDS?

P e r s o n a l – N o t e s

Dari sinopsis di atas, mungkin kalian sudah tidak asing dengan kata-kata “battle of life and death“. Di era tahun 1990-an, TV swasta kita memang banyak memutar film-film barat bertema pertarungan hidup dan mati baik bergenre blood-sport atau film-film yang mengisahkan orang-orang “tidak berguna” dikumpulkan dan diikutkan ke dalam permainan maut yang membuat mereka diburu atau saling bertarung satu sama lain. Atau pernah lihat film yang mengisahkan para tahanan dengan kalung yang bakal meledak bila berupaya kabur? Nah, formula ini kembali dihidupkan oleh Koushun Takami lewat novelnya “Battle Royale”. Kali ini, ide dikembangkan sebagai sebuah program pemerintah untuk “merestrukturasi” generasi muda.

Dalam film, kalung meledak bukanlah porsi utama. Porsi utama yang dalam film ini adalah keputusan-keputusan yang diambil para remaja yang menjadi “korban”. Ada yang memilih “kabur” dengan bunuh diri. Ada yang berusaha untuk menjadi pemenang dengan tindakan kejam seperti Mitsuko Shouma (Kou Shibasaki) dan Kazuo Kiriyama (Masanobu Ando). Ada yang mendayagunakan segala strategi seperti Shogo Kawada (Taro Yamamoto) dan Shinji Mimura (Takashi Tsukamoto). Dan ada juga tokoh seperti Nanahara Shuuya yang ingin tetap bersatu dan mencari jalan keluar terbaik bagi semua.

Sepanjang film, kita akan dibuat merenung. Pantaskah generasi muda “dihukum”? Pantaskah pula bila mereka dibiarkan berlaku seenaknya, bahkan terhadap orang dewasa? Hal itu mungkin yang jadi pertimbangan guru Kitano (Takeshi Kitano) mana kala ia memilih kelas Shuuya untuk diikutkan dalam program BR. Apakah ia salah karena membalas dendam? Lalu bagaimana dengan rasa sakit hatinya terhadap anak muda? Tapi, bagaimana dengan perasaan remaja-remaja itu sendiri? Pantaskah mereka dihukum dengan brutal? Kesempatan kedua bagaimanakah yang dapat ditawarkan untuk mendamaikan dua generasi ini?

Adegan-adegan yang ada menurut saya sangat padat. Tidak ada bagian yang sia-sia. Jujur, saya belum membaca novel aslinya. Tapi, tanpa merujuk ke sana, saya sudah cukup mengerti jalan cerita yang hendak disampaikan. Pembukaan film pun langsung menuju sasaran. Hanya mungkin yang membuat sedkit aneh adalah adegan menjelang ending (padahal mood saya sudah pas nih, tapi -eeehhh- ya gitu deh. Ga boleh spoiler, hehehe).

F a v o r i t e – C h a r a c t e r

Mimura yang di film BR 1 amatlah tampan.. >.<
Err,,, ga gitu aja, kok. Saya amat terkesima dengan peran Mimura dalam menyelamatkan teman-temannya. Dengan otaknya yang cemerlang, dia berhasil mengacaukan sistem komputer militer pengawas BR dan it almost worked!!! Yap, jika saja ga ada SI GILA ITUH !!!
Untuk lebih jelasnya, tonton sendiri aja ya..)

F a v o r i t e – S c e n e

Tuhan, bolehkah aku bicara satu kata lagi saja?? – BR 1

Hal itu diungkapkan oleh Chigusa (Chiaki Kuriyama) ketika di ambang kematian dia masih sempat bertemu Sugimura (Sousuke Takaoka). Chigusa berkata, ” Kamu keren sekali, Hiroki”. Sugimura terdiam dan membalasnya, “Kamu juga adalah gadis yang paling keren di dunia.”

P e r s o n a l – S c o r e

Idea and Story Development : 4,5*
Still looking fresh for a recycled idea. Despite the horror and brutal death scenes, it implies a lot of moral message.

Characters and casts: 4,5*
Everything seemed natural. But, do the junior high-school students look older than they supposed to be? I mean, it would be more fit if they act as high-school students ^^

Music and Sound: 3*
Nothing special, but supports the film well. Remember the eerie sound of the opera singer that is played in one of the scene? It successfully gives tension. FYI, the ending theme, “Shizukana Hibi No Kaidan Wo” is sung by Dragon Ash. Not really my favorite though.

Special Effects: 3*
The explosives should have done better. But, overall is okay.

Opening and Ending Scene: 4*
The opening scene is okay. Love the ending (“Run!”). However, a scene before ending seemingly off the track, but, forgivable ^^

Overall score: 3.8*

1,0 – 1,9 = Don’t even try to see it, ever!!!
2,0 – 2,9 = You may see it, on your own risk though.
3,0 – 3,9 = Entertaining to watch. Try to see it.
4,0 – 4,9 = Must See!!!
5,0         = Absolutely Superb!!!

6 thoughts on “Battle Royale (JPN, 2000)

  1. Sejauh ini, gw cuma liat di JF…tp mgkn di Kinokuniya ada…tapi mesti beli donk ;p

    Yg bikin nyesek…Indonesia ngetranslate Hunger Game yg notabene jiplak Battle Royale…sementara Battle Royale-nya sendiri ga ditranslate…ikh gw benci bgt ma yg nulis Hunger Game. Bukan berarti gw pgn baca translate-annya…tp pgn aja org2 bs menikmati jg bagusnya Battle Royale … bukan justru nikmatin tiiruannya.

    1. Mahal ga ya kalau beli novel BR (English Version tapi, hehehe). Pingin beli novel berbahasa Inggris sekali-sekali. Lumayan buat belajar. ^^
      Seberapa mirip-kah Hunger Game? Hhh, paling kesel si kalo tahu ada yang miripnya terlalu kebetulan dan keterlaluan.
      Setahu gue si, BR juga (mungkin) terinspirasi novel lain: “Lord of the Flies”. Tapi melihat sedikit resensi BR dan LotF di salah satu majalah, jalan ceritanya berbeda. Maka itu disebut “terinspirasi” dan bukan meniru.😉

    2. rata2 buku berbahasa Inggris sih 100an.

      Gw baca sinopsis di belakang bukunya…sama bgt. Kata org yg dah baca, alurnya sama persis cuma detail2nya aja yg dibedain

  2. Yap, sudah lihat kedua review lo baik movie maupun bukunya. Jika melihat beberapa perbedaan yang ada, hm, hm, pantesan lo kecewa ya? Jadi penasaran baca deh. Hanya ada di perpus JF ya?

Your Comment Will Make My Day :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s